Arsitektur Tradisional Daerah Bali 

Arsitektur Tradisional Daerah Bali  – Arsitektur Bali mengusung ciri – ciri yaitu struktur bangunan Bali yang lazim disebut triangga.

Konsep arsitek mereka terdiri atas hulu, badan, dan kaki. Erat kaitannya dengan fungsi sebagai wadah, arsitektur khas Bali dipandang sebagai miniatur jagad raya yang merupakan wadah dimana manusia melakukan kegiatan – kegiatan tertentu di dalamnya.

wacana.co_Arsitektur-Tradisional-Bali

Bentuk dan fungsi bangunan terkait dengan pengertian ini adalah sebagai perlambang kekuatan yang mampu menjiwai dari arah delapan penjuru angin dalam tata waktu yang dikenal dengan istilah Astawara, “Sri – Indra – Guru – Yama – Rudra – Brahma – Kala – Uma”.

Baca Juga : Faktor Warna Tanah

Dalam mengetahui dan menentukan arah untuk dapat membangun sebuah rumah khas Bali, masyarakat Bali biasanya mengutamakan arah bangunan menghadap ke letak gunung yang dianggap sebagai salah satu arah yang bagus menuju ke alam maya (kaja) dan kelod yang berlatarbelakang menghadap ke laut yang dianggap menuju ke arah alam neraka, arah barat adalah arah kematian atau kejahatan yang dikenal dengan istilah kauh, dan arah timur merupakan arah kelahiran dan kebaikan yang disebut dengan istilah kangin.

Arsitektur tradisional daerah Bali semakin dikenal sekalipun oleh masyarakat dari luar pulau karena didukung oleh pesona kecantikan pulau dan pantai – pantai yang ada di Pulau Bali, dimana hampir semua bangunan, terutama yang berlokasi di desa – desa, kental akan nuansa arsitektur tradisional Bali memperlihatkan  material yang bersifat serba alami, mengaplikasikan warna – warna kental seperti hitam dan cokelat dengan dilengkapi pahatan yang indah pada bagian pintu mencerminkan seni pahat khas arsitektur Bali.

Baca Juga : Upacara dan Tradisi Di Bali

Tidak mengherankan apabila arsitektur khas Bali  kian hari di masa depan sangat digemari oleh seluruh pelosok masyarakat di Indonesia maupun mancanegara. Nah, dengan melihat keunikan dari arsitektur khas Pulau Dewata ini, melalui artikel ini kami akan memaparkan secara singkat tentang ciri khas dari bangunan arsitektur di Bali yang mendapat perhatian khusus terutama dari turis asing.

  1. Harmoni dengan alam

Unsur utama yang kental dari arsitektur di Bali  adalah mengusung konsep arsitektur yang bersifat bersahaja dengan harmoni diantara lingkungan alam. Arsitektur harmoni yang dimaksudkan adalah karakter dan inheren sebagai salah satu watak  dasar dari arsitektur Bali. Dengan menerapkan konsep Tri Hita Karana, arsitektur Bali secara garis besar terdiri  dari 3 unsur penghubung kerharmonisan kehidupan sebuah keluarga Bali yang tinggal di dalamnya yaitu, jiwa, raga dan tenaga. Tiga unsur ini diharapkan akan mampu menciptakan keharmonisan hubungan diantara lingkungan alam, antar – manusia serta manusia dengan Tuhan. Bangunan tersebut sangat mudah ditandai dengan menggunakan material yang erat hubungannya dengan nuansa alam seperti batu – batuan alam ataupun bambu.

  1. Adanya ukiran di batu atau patung

Pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit di sekitar abad 15, arsitektur Bali secara umum banyak mendapatkan pengaruh dari ajaran Agama Hindu. Kedatangan Majapahit mampu memberikan nuansa baru terhadap kebudayaan di Bali berupa teknik pahatan di batu. Karya – karya pahatan dari batu selanjutnya diletakkan di depan rumah dan digunakan sebagai penghias bangunan sanggah / mrajan (pura keluarga) atau tempat ibadah orang Hindu. Sekarang ini, karena jaman sudah mengalami perkembangan yang cukup pesat, selain kehadiran gapura Bali dan pura – pura kecil di depan rumah, patung menjadi salah satu gaya arsitektur yang dianggap indentik dengan Bali.

Baca Juga : Kunjungan Wisata Empul

  1. Struktur ruang yang  rapi

Gaya arsitektur Bali pada umumnya menerapkan konsep Tri Angga yang merupakan sebuah konsep dalam upaya manusia menjaga keseimbangan.  Tri Angga  adalah pembagian zona atau area di dalam perencanaan arsitektur tradisional Bali, dimana perlu memperlihatkan tiga tingkatan sebagai berikut :

–  Utama atau kepala. Bagian ini dianggap memiliki posisi paling tinggi yang disimbolkan dalam bentuk atap. Pada arsitektur tradisional, bagian kepala ini memanfaatkan atap ijuk dan alang – alang. Namun, seiring dengan perkembangan jaman, bagian atap mulai memperhatikan bahan modern seperti, genteng.

–  Madya atau badan. Bagian tengah dari bangunan berarsitektur khas Bali ini diwujudkan dalam bentuk bangunan dinding, jendela dan pintu.

–  Nista atau kaki merupakan  bagian yang diletakkan paling bawah dari sebuah bangunan. Bagian ini disimbolkan dengan pondasi rumah atau bawah rumah yang berfungsi sebagai penyangga. Pada umumnya terbuat dari batu bata atau batu gunung.

Arsitektur tradisional Bali wajib menyediakan tata ruang yang berfungsi untuk mewadahi kehidupan masyarakat Bali yang saat ini telah berkembang pesat dan tetap bersumber secara turun menurun dari leluhur dahulu dengan mematuhi segala aturan – aturan yang diwarisi. Arsitektur Bali adalah gaya arsitektur vernacular yang didesain khusus dengan menggunakan bahan – bahan lokal untuk dapat membangun sebuah bangunan, struktur, dan rumah – rumah, serta mampu mencerminkan tradisi lokal.

Arsitektur Bali tersebut di atas lebih banyak dipengaruhi oleh tradisi ajaran Agama Hindhu Bali disertai unsur Jawa kuno. B

ahan – bahan yang dimanfaatkan di rumah – rumah dari bangunan Bali antara lain adalah atap jerami, kayu kelapa, bambu, kayu jati, batu, dan batu bata. Arsitektur Bali rata – rata memiliki karakteristik menerapkan konsep budaya kuno dan kesenian pada masing – masing elemen desain.

Dalam hubungannya dengan ajaran Dharma pada masyarakat Bali, mereka percaya bahwa mereka hidup di dunia ini dalam rangka membawa visi dan misi untuk membuat kebaikan di bumi, apabila kebaikannya bisa diterima oleh Tuhan maka mereka dengan mudah bisa menyatu dengan alam semesta dan mampu mencapai moksa guna menuju nirwana saat meninggalkan dunia fana untuk selanjutnya bisa bersatu dengan para Dewa di sorga.

Namun, apabila ditemukan sebuah kesalahan sekecil apapun, saat mereka mati maka dipercaya akan melakukan reinkarnasi untuk fungsi membersihkan dosa – dosanya, kembali ke bumi, hidup seperti sediakala hingga kemudian saat meninggalkan dunia fana ini, bisa diterima kembali oleh Tuhan / Ida Sanghyang Widhi Wasa. Inilah konsep singkat tentang kosmologi Bali yang dianut dalam arsitektur Bali sebagai dasar menciptakan arsitektur Bali pada harmoni dan keselarasan kehidupan.

Arsitektur tradisional Bali sangat erat hubungannya dengan keberadaan manuskrip ajaran Agama Hindhu bernama “Lontar Asta Kosala Kosali” yang berisikan tentang aturan – aturan pembangunan sebuah rumah atau puri Bali dan aturan penempatan pembuatan ibadah atau pura – pura kecil dimana keluarga akan melakukan kegiatan persembahyangan bersama.

Dalam lontar Asta Kosala Kosali disebutkan bahwa peraturan yang dibuat berdasarkan atas pembuatan sebuah rumah wajib menerapkan aturan – aturan anatomi tubuh dari pemilik rumah dengan dibantu oleh kelompok “Sang Undagi” sebagai Pedande atau orang suci yang memiliki wewenang untuk dapat membantu kelancaran pembangunan rumah beserta sanggah / mrajan atau pura keluarga.

Baca Juga : Masyarakat Agraris Pulau Dewata

Informasi lain terkait dengan filosofi dari desain arsitektur Bali yang mendapat pengaruh besar dari ajaran Agama Hindu terutama dalam hal organisasi ruang dan hubungan sosial yang bersifat komunal terhadap bangunan sebuah rumah atau villa di Bali adalah dibangun dan dirancang dengan menerapkan 7 filosofi sebagai berikut :

  1. Tri Hata Karana – adalah menciptakan harmoni dan keseimbangan antara 3 unsur kehidupan – atma atau manusia, angga atau alam, dan khaya atau Dewa – Dewa.
  2. Tri Mandala – adalah aturan pembagian ruang dan zonasi.
  3. Sanga Mandala – adalah seperangkat aturan yang dibuat untuk pembagian ruang dan zonasi berdasarkan atas arah.
  4. Tri Angga – merupakan konsep atau hierarki antara alam yang berbeda.
  5. Tri Loka – adalah menyerupai dengan Tri Angga tetapi diaplikasikan terhadap kondisi alam yang berbeda.
  6. Asta Kosala Kosali – 8 pedoman desain arsitektur yang membahas tentang simbol, kuil, tahapan, dan satuan pengukuran.
  7. Arga Segara – adalah keselarasan antara gunung dan laut.

Kompleks rumah tradisional Bali

Berdasarkan atas filosofi tersebut di atas, arsitektur Bali selanjutnya berfokus pada 4 aspek, yaitu : memperhatikan sistem ventilasi yang pas.

Terhadap sebuah rumah Bali ataupun villa, wajib menyediakan jendela besar yang bermanfaat untuk menjaga sirkulasi udara tetap sehat dimana pada beberapa desa di Bali kadang – kadang dibuatkan ruang diantara atap dan dinding bangunan. Selanjutnya adalah memperhatikan fondasi yang kokoh berdasarkan atas filosofi Tri Loka, dimana tubuh manusia dapat diibaratkan sebagai sebuah bangunan rumah, maka dibuatlah fondasi yang kokoh, seperti kaki bagi manusia, dimana fondasi yang kuat akan berpengaruh bagus dan dapat memberikan kekuatan terhadap kondisi keseluruhan dari rumah tersebut. Sebuah halaman besar, wajib memperhatikan konsep yang selaras dengan alam, rumah khas Bali rata – rata memiliki halaman yang luas untuk fungsi dimana anggota keluarga dapat berkomunikasi yang sehat dengan alam sekitarnya. Perhatikan tembok penjaga. Tembok tinggi wajib dibuat untuk fungsi melindungi rumah dari pandangan orang luar yang tak anda kenal, memberikan privasi dan perlindungan, serta untuk menangkal ilmu hitam dan roh – roh jahat agar mereka sulit masuk ke dalam rumah. Filosofi ini mampu mencerminkan kekhasan yang sangat kuat terhadap arsitektur Bali sehingga sangat digemari hingga ke mancanegara, meskipun pada beberapa bagian masih mempertahankan beberapa unsur ajaran Agama Hindhu Jawa kuno.

Unsur lain yang harus diperhatikan dan menjadi ciri khas terhadap arsitektur Bali adalah :

1/Adanya pura keluarga atau sanggah untuk tempat sembahyang umat Hindhu di Bali. Pengaruh besar dari arsitektur Bali secara umum didominasi oleh budaya dan ajaran Agama Hindhu sejak masa kejayaan Kerajaan Majapahit ke Pulau Bali pada abad 15 yang meninggalkan kebudayaan berupa teknik pahatan pada batu yang difungsikan sebagai patung penjaga gapura pura dimana kehadiran patung di area depan pura kecil ini identik dengan gaya arsitektur Bali.

2/Adanya pengaruh dari kepercayaan Polytheisme atau pemujaan kepada banyak Dewa merupakan kebudayaan awal yang hingga saat ini mampu eksis di Pulau Bali sebelum mendapatkan pengaruh besar terhadap ajaran Agama Hindhu ke pulau ini. Maka dari itu, anda masih bisa melihat beberapa gaya arsitektur erat hubungannya dengan dengan unsur kebudayaan Bali. Warga Bali wajib membangun sebuah pura kecil di halaman rumah mereka dengan mengusung konsep terbuka, terutama untuk hal – hal yang memiliki sifat dan fungsi sebagai tempat peribadatan atau pemujaan terhadap Dewa – Dewa. Dalam satu kompleks pura kecil terdapat lebih dari satu bangunan pura dimana masing – masing bangunan bermanfaat untuk memuja Dewa yang berbeda – beda.

Suasana di kompleks rumah tradisional Bali

Untuk bangunan selain didesain untuk kegiatan pemujaan, bangunan ini dibuat dari bambu dan material lain yang bersifat alami seperti batuan – batuan alam berlatarbelakang budaya Bali yang mewajibkan si pemilik rumah untuk membangun pura keluarga lebih tampil unik dan etnis daripada bangunan utama rumah mereka sendiri.

3/Orientasi kepada hal – hal yang bersifat sakral. Gaya arsitektur Bali dibuat dengan menerapkan konsep merepresentasikan kesakralan. Tidak hanya terhadap bangunan pura keluarga atau rumah pribadi, juga bangunan – bangunan kecil lainnya yang didesain dengan mempertimbangkan konsep kesakralan.

4/Struktur rumah tradisional yang bersifat kompleks. Rumah – rumah di Bali saat ini cenderung mengusung konsep struktur yang kompleks dan tertata rapi yang terdiri atas satu unit stuktur dikelilingi oleh sekumpulan bangunan – bangunan. Masing – masing bangunan dihuni oleh satu kepala keluarga. Mereka yang tinggal di dalam kompleks ini adalah memiliki hubungan kekeluargaan yang berasal dari satu keturunan keluarga besar. Di sekeliling kompleks bangunan rumah dibangun tembok yang memiliki ketinggian sedang – sedang saja namun cukup bisa memisahkannya dengan dunia luar.

Peta kompleks, rumah tradisional Bali

Pada kompleks bangunan tersebut di atas biasanya terdapat satu pura kecil untuk sembahyang, dapur yang berfungsi untuk memasak dan makan bersama, area untuk tidur, serta area untuk melakukan pertemuan penting atau perjamuan tamu. Untuk tujuan ini, bangunan dibangun menjadi 2 macam paviliun, yaitu paviliun yang berfungsi untuk menerima tamu serta paviliun yang khusus diperuntukkan untuk upacara adat dan ritual keagamaan.

Rumah khas Bali dibangun dengan dikelilingi oleh dinding dari tahah lumpur bercat putih atau batu bata tergantung pada kekayaan dari si pemilik rumah. Didominasi oleh paviliun (bale) yang mengelilingi halaman tengah (natah) memiliki elemen arsitektur lainnya yang dibangun dalam area rumah ditata sesuai dengan mengusung konsep kesakralan warga Bali yang wajib memperhatikan arah mata angin.

Pura kecil wajib ada dalam kompleks rumah

Pura kecil untuk tempat persembahyangan keluarga merupakan area yang dikeramatkan atau dianggap paling suci dari keseluruhan bangunan rumah, biasanya terletak di timur laut ( kaja – kangin ) yang diidentifikasikan sebagai kepala terhadap kompleks rumah. Pura keluarga ini tertutup bagi tamu yang berkunjung. Bangunan yang penting adalah Kamulan Sanggah, sebuah pura yang berisi tiga kompartemen yang didedikasikan untuk memuja Dewa Trimurti dalam ajaran Agama Hindhu, Brahma, Wisnu dan Siwa.

Demikianlah rangkuman kami dari berbagai sumber berita, mengulas dengan singkat, semoga bermanfaat dan ada yang berminat !

Baca Juga : Jenis Gamelan Tradisional Bali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Memulai
%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close